I Promise

1,871 miles are the distance between me and you. It is the distance that makes me only think of you. All I can say is I miss you. I might not always show it, might not always tell people, but on the inside I miss you like crazy.

You and I are the best pair in every action. We smile, we laugh, and even we cry together.

I know I have hurt you and it is the greatest regret in my life. Perhaps, I will not be able to get your forgiveness, but please listen to me..

I know it is really difficult for us. But you know, love always brings difficulties, that is true, but the good side of it is that it gives energy. I promise that I will never let you go again. Please hold my hand and believe me. If we try, we can always be together.

Masih

Sejak pertemuan kita hari Minggu lalu, entah kenapa selalu terngiang kembali lagu ini. Liriknya yang puitis seakan menjadi pengingat akan kelembutan hatimu dan raut wajahmu yang sangat menyenangkan.

Dan lihatlah

Dirimu bagai bunga di musim semi

Yang tersenyum menatap indahnya dunia

Yang seiring menyambut

Jawaban segala gundahmu

Walau badai menghadang

Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu

Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

P.S. Untukmu yang selalu kurindukan

Padatnya Jakarta…

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya sekarang saya mulai menyempatkan diri lagi untuk bercerita di blog ini. ūüôā

Saat ini ada hal yang berubah pada diri saya, yaitu adanya gelar di belakang nama saya! hehe.
Perjuangan selama empat tahun akhirnya menghantarkan saya pada sebuah gelar Sarjana Teknik (S.T.). Karena gelar S.T. ini adalah gelar yang pertama, saya tidak perlu menambahkan embel-embel lainnya. Beda jika gelar ini sudah yang ke-12 kali, maka nantinya nama saya bisa menjadi Arvin Putranto, S.T12. Kan bisa disangka pemain band. *naon*

Oke, sekarang kehidupan saya pun telah berpindah. Dari kehidupan kampus, kini beralih ke dunia kerja. Dari orientasi pegunungan (Bandung), kini berubah menjadi metropolitan. widiih
Di kota metropolitan ini, saya mulai mencoba membangun mimpi saya dan menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan.

Tinggal di kota metropolitan sebenarnya menyenangkan (kata orang). Namun, hingga saat ini saya masih belum menemukan kesenangannya. #sori JKT48

Hal yang paling membuat ketidakbetahan saya adalah kepadatannya. Dimana-mana jalanan macet. Selain itu, setelah beberapa kali naik KRL, saya membuktikan sendiri bahwa “pepes manusia” itu ada. Keluar-keluar dari KRL, orang akan lemas, lengket, dan “beraroma tajam”. Untungnya tidak ada orang yang memakai pakaian dari daun pisang. :p
Jumlah penumpang yang sangat banyak membuat ketidaknyamanan dan mengakibatkan kelelahan.

Dalam sebuah siaran berita di sebuah stasiun televisi, disebutkan bahwa jumlah penduduk di kota Jakarta selama jam kerja sekitar 20 juta orang. Saya tidak memiliki data tahun 2013 ini, namun menurut Permendagri nomor 66 tahun 2011, jumlah penduduk Jakarta yang terdaftar itu hanya 9,8 juta orang. Oleh karena itu dengan beban angkut 10 jutaan orang tersebut, bisa dibayangkan bahwa kebutuhan transportasi di Jakarta sangat tinggi. Patut diingat bahwa luas DKI Jakarta hanya 664,01 km2 sehingga Jakarta sangat padat dan menjadi masuk akal selalu diliputi kemacetan.

Sejalan dengan jumlah penduduknya, jumlah kendaraan di ibukota pun sangat besar. Berdasarkan web houseofinfographics.com yang dihimpun dari berbagai sumber, didapatkan hasil yang mencengangkan.

Yang pertama, yaitu jumlah kendaraan. Jika dibandingkan, 3 dari 10 mobil di Indonesia itu berada di Jakarta dan 14% motor Indonesia juga ada di Jakarta. Belum lagi setiap harinya Jakarta ditambah 1.130 unit kendaraan baru.

Kedua, jumlah kerugian yang ditimbulkan. Kerugian masyarakat Jakarta akibat kemacetan ini sekitar 68 triliun setiap tahun! Ongkos transportasi yang membengkak dan waktu yang terbuang percuma disinyalir sebagai faktor utama penyebab kerugian itu. Bayangkan, perharinya bisa terbuang 168 miliar rupiah secara cuma-cuma.

Saya berharap secepatnya permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik oleh pemerintah setempat. Mass Rapid Transit (MRT) yang sekarang mulai dikerjakan kembali, semoga dapat menjadi pemecah kebuntuan.  Dan sebagai warga masyarakat yang baik, marilah kita gunakan kendaraan pribadi hanya seperlunya saja.

Papua (?)

Kali ini saya ingin membahas tentang Papua setelah sebelumnya saya merasa “tertohok” saat menonton film Jungle Child. Seperti yang saya tulis pada artikel sebelumnya, film Jungle Child bercerita tentang seorang gadis muda Jerman yang hidup di tengah hutan di Papua. Melalui film itu saya bisa belajar adat budaya masyarakat Papua dan hal tersebut saya sesalkan. Saya mengerti kehidupan ¬†saudara sebangsa saya ¬†melalui bangsa asing.

tratan2

Sebagai permulaan, mari kita tilik dulu arti kata papua. Dari paper berjudul On The Origin of The Name Papua karangan J.H.F Sollewijn, Papua dulunya ditemukan pelaut Spanyol Ynigo Ortis de Retez dan dinamakan “Neuva Guinnea” karena adanya kemiripan fisik penduduk disana dengan penduduk di Teluk Guinea, Afrika Barat. ¬†Kata papua sendiri berasal dari kata “puah-puah” yang berarti ¬†rambut keriting. Kata ini untuk menggambarkan penduduk dari Neuva Guinnea. Kemungkinan kata papua berasal dari bahasa Melayu yang digunakan penduduk Maluku Utara. Saat Belanda menguasai Nueva Guinnea Barat, Belanda menggunakan kata Papua sebagai nama resmi pulau itu. Sejak saat itulah hingga Indonesia mengambil alih, nama Papua selalu digunakan.

Setelah Indonesia merdeka dan Papua berhasil diselamatkan tentara RI, pada Konferensi Malino pada tahun 1964, Frans Kaisiepo, seorang pahlawan nasional Indonesia asal Papua yang sempat juga menjadi Gubernur Papua, mengusulkan nama Iryan. ¬†Hal ini disebabkan penduduk disana tidak menyukai kata papua karena dianggap terlalu merendahkan ( papua tidak hanya diartikan keriting tetapi juga hitam, budak, dan penjahat). Kata Iryan berasal dari bahasa Biak yang artinya “membangkitkan” (to rise), ada juga yang mengartikan “sinar menghalau kabut”. Kata irian ini juga bisa diartikan terdiri dari dua kata yaitu Iri dan Ryan yang berarti tanah panas. Presiden Soekarno pada masa itu memopulerkan kata Irian sebagai singkatan “Ikut Republik Anti Netherland”. Sempat menjadi Irian Barat berganti menjadi Irian Jaya pada masa Soeharto, namun akhirnya kembali lagi menjadi Papua pada masa pemerintahan Gus Dur. Gus Dur mengaku mengganti nama tersebut tanpa tekanan dan beralasan bahwa kata Irian berasal dari bahasa Arab yang berarti “telanjang”. Lalu pada zaman Megawati dengan melanggar UU Otonomi Khusus Papua, Papua dibagi menjadi 2 provinsi yaitu Papua dan Papua Barat.

Jika kita melihat sejarah perjalanan Papua/ Irian hingga kini, Papua awalnya masuk wilayah Kesultanan Tidore. Selanjutnya dijajah Portugal pada tahun 1526 dan berganti Spanyol pada tahun 1546. Selanjutnya saya masih belum jelas kenapa Papua bisa kembali dikuasai Tidore. Namun yang pasti pada tahun 1828, Belanda melalui gubernurnya di Maluku membangun benteng Fort du Bus di Teluk Triton daerah Lobo (Papua) yang bertujuan untuk menghadang kapal Inggris yang ingin datang ikut menjajah. Itu awal mula Belanda di Papua. Setelah Tidore menyerah pada Belanda di tahun 1872, Belanda dapat dengan bebas melebarkan sayap penjajahannya. Pada tahun 1898 Belanda kembali ke Papua dan menguasai hingga tahun 1949.

Pada tahun 1949, Indonesia melakukan perundingan dengan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Namun berdasarkan hasil konferensi, Papua/ Irian Barat masih belum bisa diserahkan ke Republik Indonesia Serikat saat itu. Selanjutnya keadaan semakin memanas. Presiden Soekarno merasa terancam dengan gerak-gerik Belanda di Papua yang akan memunculkan sebuah negara boneka di Papua. Hal ini dikarenakan Soekarno mengetahui bahwa pada tanggal 1 Desember 1961 telah disetujui dan akan dilakukan persiapan deklarasi Papua Barat merdeka. Soekarno geram mendengar hal tersebut. Kemudian pada tanggal 19 Desember 1961 dikeluarkan TRIKORA oleh Presiden Soekarno. Tujuan utama TRIKORA adalah menggagalkan pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda. Pasukan TNI AD yang ditugaskan menggagalkan pembentukan negara boneka Papua tersebut dipimpin Mayjend. Soeharto selaku Panglima Komando Mandala. Dengan berbagai operasi militer yang dilakukan, akhirnya bendera merah putih dapat dikibarkan di Papua.

Untuk menjembatani penyelesaian sengketa Papua Barat antara Indonesia dan Belanda, Amerika Serikat menginisiasi New York Agreement pada tahun 1962. Hasil New York Agreement adalah Papua Barat sementara akan diawasi PBB melalui UNTEA untuk berikutnya dilakukan Pepera. Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) diselenggarakan pada tahun 1969 untuk memutuskan sikap rakyat Papua, apakah merdeka, bergabung dengan Indonesia, atau Belanda. Dari hasil Pepera, Papua bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Referensi:

On The Origin of The Name Papua oleh J.H.F. Sollewun Gelpke tahun1992. (http://www.papuaweb.org/dlib/bk1/kitlv/bki/gelpke-1993.pdf)
Twit Ridwansyah Yusuf Ahmad dalam Diskusi Tentang Papua dan Pemutaran Film Alkinemokiye tanggal 24 Februari 2013 (http://chirpstory.com/li/56587)
Hasil dari New York Agreement tahun 1962 (http://en.wikipedia.org/wiki/New_York_Agreement)
Sejarah Konferensi Meja Bundar (http://indonesiaindonesia.com/f/101663-sejarah-konferensi-meja-bundar-kmb/)

Jungle Child

Hari minggu pagi ini saya menyempatkan diri untuk bersantai dengan menonton film. Salah satu film yang saya tonton berjudul¬†“Dschungelkind” atau yang dalam bahasa Inggris adalah ¬†“Jungle Child”. Awalnya film ini tidak terlalu menarik perhatian karena judulnya menurut saya tidak istimewa. Namun setelah mengikuti jalan ceritanya, saya rela untuk memberikan standing ovation¬†untuk film ini. ūüėÄ

Film ini bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga Jerman yang rela mencurahkan hidupnya untuk mempelajari bahasa (linguistik) suku Fayu di dalam hutan terpencil Papua Barat. Keluarga ini dikepalai oleh Vater Klaus Kuegler dengan membawa serta istri dan tiga orang anaknya. Ketiga orang anaknya bernama Judith, Christian, dan Sabine. Sabine saat pindah ke tanah Papua berusia 8 tahun. Kakaknya Judith saat itu mungkin berusia sekitar 11 tahun dan adiknya Christian sekitar 6-7 tahun.  Nah, fokus utama film ini terletak pada sisi Sabine, yang pada akhirnya nanti akan disebut gadis hutan (dschungelkind).

Kehidupan suku Fayu yang dipimpin kepala suku bernama Boko saat itu masih sangat primitif dan tidak mengenal teknologi. Bahkan suku ini masih sering berperang dengan suku lain. Mereka berperang terbuka sambil membawa busur dan anak panah.

Pada film ini diceritakan Sabine sebagai gadis kecil yang riang dan bersahabat. Di awal kedatangan mereka, hampir semua suku Fayu takut untuk mendekati mereka walaupun Sabine telah bersusah payah untuk bersikap ramah. Sabine yang mengajak bermain anak-anak disana pun tidak digubris.

Konflik bermula saat Sabine dan adiknya yang bermain di hutan bertemu Auri yang sedang sekarat. Auri ditinggalkan sendiri di tengah hutan karena dianggap dikutuk dewa sehingga tidak akan pernah sembuh dari sakitnya. Sabine pun melaporkan kepada ayah dan ibunya. Ibu Sabine yang seorang perawat akhirnya membantu menyembuhkan Auri dengan membawanya ke rumah mereka. Pria-pria suku Fayu kemudian datang dan marah kepada ayah dan  ibu Sabine yang dianggap melawan kehendak dewa. Sempat ada ketegangan, namun sang kepala suku Boko akhirnya bisa meredam. Setelah beberapa hari akhirnya Auri dapat sembuh dan perlahan-lahan muncul rasa percaya kepada keluarga Sabine. Mereka kini tidak takut lagi bermain dengan Sabine dan mulai bersahabat.

Cerita ini berlanjut hingga Sabine berusia 16 tahun dan akhirnya harus kembali ke Jerman untuk melanjutkan studi. Selama di Jerman, Sabine tetap tidak bisa melupakan suku Fayu dan kehidupan disana. Akhirnya bertahun-tahun kemudian, Sabine kembali ke Papua untuk menemani ayah dan ibunya dan juga suku Fayu. ūüôā
B1200000052  kuegler

Pada gambar paling atas, itu adalah buku yang ditulis Sabine Kuegler dan di sebelah bawah adalah poster dari  film ini. Dari poster ini pun terdapat satu hal menarik yaitu foto Sabine yang saling menempelkan dahinya dengan  Boko, kepala suku Fayu. Dalam adat Papua menempelkan dahi ini ternyata berarti salam damai, bahkan bisa sebagai salam sayang.

Bagi penyuka film, film ini sangat recommended lah. Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari film ini, terutama tentang keikhlasan dalam membantu orang lain. Keikhlasan pasti berakhir indah. ūüôā

Selalu Menyenangkan Bersama Keluarga

Libur yang cukup panjang kemarin, dari jumat sampai minggu, saya sempatkan berkunjung kembali ke Bogor. Sudah beberapa kali sejak memasuki kuliah saya mendatangi kota ini. Tak lain tak bukan karena abang saya juga berkuliah di IPB.

Perjalanan saya menuju kota Bogor dimulai pada hari Kamis sore. Seperti biasa, kota Bandung sudah macet di sore hari itu. Angkot yang saya naiki pun ngetemnya kelamaan, jadilah waktu saya sampai di terminal sedikit diluar perkiraan. Beruntung bis menuju Bogor masih cukup banyak, tidak seperti bis jurusan Bandung-Sukabumi yang sangat padat dan sedikit sehingga calon-calon penumpang berlarian dan berebutan untuk bisa menaiki bis. Kasihan juga melihatnya.. hehe

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bis yang saya naiki melaju juga. Karena libur panjang, penumpang bis ini pun juga padat bahkan ada yang duduk di lantai bis ataupun berdiri. Sesampainya di jalan bebas hambatan, saya mulai beristirahat dan memejamkan mata. Namun beberapa menit kemudian, mungkin karena volume kendaraan yang padat dan juga kata pak supir ada yang kecelakaan di tol Cipularang tadi siang makanya jalan bebas hambatan ini pun macet. Arus lalu lintas yang padat dan macet ini menyebabkan waktu kedatangan saya di Bogor lagi-lagi di luar perkiraan, bis yang start dari jam 6 sore akhirnya sampai di Bogor jam 11 malam. (-__-)

Selama di Bogor, saya dan abang saya kebanyakan bersantai untuk menghilangkan suntuk akibat kuliah. Kami menonton film, main games, dan bahkan memasak. Untuk urusan memasak, abang saya ternyata sudah bertambah jago. Dia sudah bisa memasak sup ayam yang rasanya tidak kalah dengan sup ayam di restoran! :9

Hari Sabtunya, kami melancong ke provinsi sebelah yaitu DKI Jakarta. Kami menaiki KRL menuju ke stasiun Jakartakota. Sesampainya disana, kami melanglangbuana dahulu ke Glodok, pengennya sih liat-liat barang elektronik tetapi toko-toko masih banyak yang tutup karena libur. Yang banyak buka adalah toko-toko audio yang penjualnya berkaraoke untuk mencuri perhatian pengunjung sekaligus memamerkan kemampuan perangkat audionya. Di Glodok pun kami sempat pula ditawari DVD bok*p. HaHaHa..

Setelah berkeliling Glodok, kami menuju kawasan Kota Tua. Karena dekat, kami berjalan kaki. Di kawasan Kota Tua kami melepas penat sejenak sambil makan siang. Pengunjung pada hari itu cukup ramai dan rata-rata bersama keluarga. Kami pun menyempatkan mengunjungi museum Fatahillah yang berupa bangunan peninggalan jaman Belanda dikala Jakarta masih bernama Batavia. Nuansa di dalam museum ini cukup gelap dan bahkan di depan pintu masuk sudah disuguhi pemandangan patung tentara Belanda yang ingin mengeksekusi penduduk pribumi. Cukup menyeramkan membayangkan kejadian yang sebenarnya.

144341_kotu5

Museum Fatahillah tampak dari luar*

Di dalam museum ini banyak terdapat lukisan. Lukisan yang cukup mencolok adalah sebuah lukisan seorang pria Belanda. Sepertinya ia pria yang berkedudukan penting di Batavia pada masanya. Selain itu terdapat pula sebuah cermin yang besar. Di depan cermin ini banyak muda-mudi yang berfoto.

Setelah cukup berkeliling, akhirnya kami kembali lagi ke Bogor. Walaupun cuaca sangat panas tetapi itu tidak mengurangi kesenangan kami berjalan-jalan. Memang selalu menyenangkan bersama keluarga. ūüėÄ

*sumber foto:
http://travel.detik.com/read/2012/09/15/144030/2020583/1383/5/wisata-ke-masa-lalu-di-kota-tua-jakarta