Untuk apa hidup

Untuk apa manusia hidup di dunia?

Manusia hidup di dunia untuk membayar hutang kepada Tuhan. Tuhan telah memberi kebaikan yang tidak terhitung banyaknya kepada kita manusia. Oleh karena itu, kita menebusnya dengan cara berbuat baik selama kita hidup.

*Disadur dari Kitab Komik Sufi 2

Masa Lalu. Sekarang. Masa Depan

Seorang manusia berusaha berlari dan berpacu dengan waktu. Dengan langkahnya yang kecil ia mencoba melawan sang waktu. Namun, waktu berjalan dengan kakinya yang cepat semakin jauh meninggalkan manusia. Langkah-langkah kecil itu terasa sangat lamban, walau sekeras apapun usaha manusia.

Manusia yang tertinggal di belakang terlambat menyadari bahwa pandangan depan yang sebelumnya dilihat oleh kedua matanya, kini telah berubah saat dilewati sang waktu. Pemandangan itu tak lagi sama. Semuanya berubah berbeda setelah dilewati waktu. Semakin seksama diperhatikannya, semakin membuncah emosi yang ia rasa.

Manusia tak menyukai perubahan itu. Ia menginginkan imaji yang dulu ia lihat!

Langkah demi langkah yang manusia lalui, pikirannya hanya tertuju pada bayangan dulu. Sedangkan kakinya bergerak sendiri tanpa diatur, tetap mengejar waktu. Tak peduli seberapa panjang jalan yang ia lalui, hati dan pikirannya tak lagi satu. Ia tenggelam dalam bayang nostalgis masa lalu.

Waktu yang menyadari telah terlalu jauh meninggalkan manusia, mulai memperlambat lajunya. Jarak demi jarak berhasil dipangkas oleh kerja tanpa henti kaki manusia. Manusia yang masih tenggelam dalam lamunan tidak merasakan hal itu. Pikirannya masih tersibukkan dengan bayang.

Tak lama, manusia semakin mendekati waktu. Ia dan waktu yang dulu berjarak sangat jauh, kini hanya berbeda tak kurang dari sejengkal tangan. Walaupun begitu, manusia tetap tidak sadar. Ia hanya membiarkan kakinya berlari.

Waktu yang melihat manusia di dekatnya mulai membiarkan manusia melewati dirinya. Ia lalu berhenti. Manusia tetap berlari dan berlari. Waktu menatap dalam diam. Tatapannya penuh rasa iba sambil berkata,”Mengapa pikiranmu hanya tersita pada hal yang telah berlalu? Sampai-sampai kau tak menyadari apa yang terjadi kini.”

Waktu kemudian beranjak meninggalkan manusia itu. Akhirnya manusia berlari sendirian dalam dimensi tanpa ditemani waktu.

Kesempatan

Bagi banyak orang, kesempatan itu dianggap sebagai barang berharga yang tidak akan datang untuk kedua kalinya. Juga kesempatan dihubungkan dengan tingkat keberuntungan seseorang. Semakin baik atau semakin banyak kesempatan yang ditemui maka semakin beruntunglah orang tersebut.

Saat ini kesempatan (bertemu) itu masih belum saya temui. Apakah saya termasuk orang yang tidak beruntung?
Saya pikir tidak juga. Saya hanya akan menunggu lagi kesempatan itu datang. Jikapun kesempatan itu tak kunjung datang juga, maka saya pasti akan berusaha mendatangkannya. Karena saya percaya, usaha pasti akan membuat kesempatan datang menghampiri.
(Dan segera saat itulah saya akan menjemputnya)

Happy Birthday

Tanggal 21 Maret, ya  tanggal 21 Maret. Tepat saat adzan Subuh bergema, setengah hatiku berkata, “Hari ini ulang tahunmu, maka bergembiralah.”
Namun, serpihan-serpihan hatiku yang lain berkata,” Hmm.. Kalau hari ini ulang tahunmu, lalu kenapa? Apa yang akan kauperbuat? Ini hanya sebuah hari diantara hari lainnya. Justru harusnya semakin bertambah umur, maka semakin pendek waktumu di dunia ini”.

Tak ingin memperpanjang pemikiran lagi, akhirnya kugerakkan badan ini untuk mengambil wudhu dan bergegas menunaikan sholat Subuh di pagi yang dingin ini. Cuaca dingin ini benar-benar menusuk tulang dan cukup mengangguku sepanjang sholat, cukup untuk membuatku sesekali menggigil dan terlupa bacaan apa yang telah kuucapkan.
Setelah melaksanakan solat, sambil berbaring di atas kasur pikiranku mulai menerawang kembali . Tak lama, tanpa sadar mataku telah tertutup dan selamat tinggal sementara, dunia!

Cukup lama setelah tertidur, aku mendengar suara kasak-kusuk di luar kamar. Aku tak terlalu mementingkannya, badan dan pikiran ini rasanya masih terlalu lelah. Biarlah, pikirku. Ternyata beberapa detik kemudian, pintu kamarku diketuk dan dengan malasnya aku bangun untuk membuka pintu. Dan….ternyata ada kejutan untukku! Ya, sebuah kue ulang tahun. Aku sangat terharu saat itu, sangat-sangat terharu, ternyata masih ada yang memedulikanku. Di tengah keharuan ini tanpa sadar pikiranku melanglang ke dimensi lain.

Aku ingat bahwa setiap hari ulang tahunku, ada satu hal yang selalu kutunggu. Satu hal yang membuatku bahagia yaitu, telepon dari keluargaku. Telepon dari ayah, ibu, kakak, dan juga abangku yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Sambil sesekali mempercandai diriku yang si bungsu ini walau kian hari bertambah dewasa namun tetap saja masih anak kecil di mata mereka.

Karena hal inilah, ditengah keharuanku, aku teringat bahwa seharusnya aku menunggu telepon dari keluargaku. Tetapi, ada yang berbeda dalam hati ini. Serasa ada arus lemah menyentakku dan mengingatkan bahwa ada sebentuk gelombang suara khas yang tidak mungkin lagi bisa kudengar langsung.

Suara itu suara ayahku. Suara penuh kasih sayang yang selalu menyatakan kebanggaan kepada kami, anaknya. Suara penuh dedikasi dan rela berkorban apapun untuk kami. Suara yang selalu menghiasi benak dan hati kami setiap hari, seumur hidup kami.
Suara yang tidak akan pernah bisa didapatkan gantinya.

Hanya doa yang bisa kusampaikan kepadamu, ayah. Walaupun aku ingin berteriak dan memberikan seluruh isi dunia ini untukmu, tetapi aku tidak pernah bisa.

“Ya Allah, terimalah ayahku di sisiMu. Lapangkanlah kuburnya, terimalah amal ibadahnya, dan ampunilah dosa-dosanya.”

Hajimemashite

Halo, salam kenal.

Saya seorang mahasiswa teknik yang sedang berada di semester akhir perkuliahan.

Yap, ini kali pertama saya menulis di blog ini. Pengalaman saya yang mendapatkan cerita, ilmu, dan hal-hal menarik lainnya lewat blog orang lain, menginspirasi saya untuk menulis blog juga. Inginnya berbagi ilmu, mulai dari yang diajarkan di kampus saya sampai yang didapatkan secara tidak langsung 😀

So, ditunggu ya!