Padatnya Jakarta…

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya sekarang saya mulai menyempatkan diri lagi untuk bercerita di blog ini. 🙂

Saat ini ada hal yang berubah pada diri saya, yaitu adanya gelar di belakang nama saya! hehe.
Perjuangan selama empat tahun akhirnya menghantarkan saya pada sebuah gelar Sarjana Teknik (S.T.). Karena gelar S.T. ini adalah gelar yang pertama, saya tidak perlu menambahkan embel-embel lainnya. Beda jika gelar ini sudah yang ke-12 kali, maka nantinya nama saya bisa menjadi Arvin Putranto, S.T12. Kan bisa disangka pemain band. *naon*

Oke, sekarang kehidupan saya pun telah berpindah. Dari kehidupan kampus, kini beralih ke dunia kerja. Dari orientasi pegunungan (Bandung), kini berubah menjadi metropolitan. widiih
Di kota metropolitan ini, saya mulai mencoba membangun mimpi saya dan menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan.

Tinggal di kota metropolitan sebenarnya menyenangkan (kata orang). Namun, hingga saat ini saya masih belum menemukan kesenangannya. #sori JKT48

Hal yang paling membuat ketidakbetahan saya adalah kepadatannya. Dimana-mana jalanan macet. Selain itu, setelah beberapa kali naik KRL, saya membuktikan sendiri bahwa “pepes manusia” itu ada. Keluar-keluar dari KRL, orang akan lemas, lengket, dan “beraroma tajam”. Untungnya tidak ada orang yang memakai pakaian dari daun pisang. :p
Jumlah penumpang yang sangat banyak membuat ketidaknyamanan dan mengakibatkan kelelahan.

Dalam sebuah siaran berita di sebuah stasiun televisi, disebutkan bahwa jumlah penduduk di kota Jakarta selama jam kerja sekitar 20 juta orang. Saya tidak memiliki data tahun 2013 ini, namun menurut Permendagri nomor 66 tahun 2011, jumlah penduduk Jakarta yang terdaftar itu hanya 9,8 juta orang. Oleh karena itu dengan beban angkut 10 jutaan orang tersebut, bisa dibayangkan bahwa kebutuhan transportasi di Jakarta sangat tinggi. Patut diingat bahwa luas DKI Jakarta hanya 664,01 km2 sehingga Jakarta sangat padat dan menjadi masuk akal selalu diliputi kemacetan.

Sejalan dengan jumlah penduduknya, jumlah kendaraan di ibukota pun sangat besar. Berdasarkan web houseofinfographics.com yang dihimpun dari berbagai sumber, didapatkan hasil yang mencengangkan.

Yang pertama, yaitu jumlah kendaraan. Jika dibandingkan, 3 dari 10 mobil di Indonesia itu berada di Jakarta dan 14% motor Indonesia juga ada di Jakarta. Belum lagi setiap harinya Jakarta ditambah 1.130 unit kendaraan baru.

Kedua, jumlah kerugian yang ditimbulkan. Kerugian masyarakat Jakarta akibat kemacetan ini sekitar 68 triliun setiap tahun! Ongkos transportasi yang membengkak dan waktu yang terbuang percuma disinyalir sebagai faktor utama penyebab kerugian itu. Bayangkan, perharinya bisa terbuang 168 miliar rupiah secara cuma-cuma.

Saya berharap secepatnya permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik oleh pemerintah setempat. Mass Rapid Transit (MRT) yang sekarang mulai dikerjakan kembali, semoga dapat menjadi pemecah kebuntuan.  Dan sebagai warga masyarakat yang baik, marilah kita gunakan kendaraan pribadi hanya seperlunya saja.

Advertisements

One thought on “Padatnya Jakarta…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s