Jungle Child

Hari minggu pagi ini saya menyempatkan diri untuk bersantai dengan menonton film. Salah satu film yang saya tonton berjudul “Dschungelkind” atau yang dalam bahasa Inggris adalah  “Jungle Child”. Awalnya film ini tidak terlalu menarik perhatian karena judulnya menurut saya tidak istimewa. Namun setelah mengikuti jalan ceritanya, saya rela untuk memberikan standing ovation untuk film ini. 😀

Film ini bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga Jerman yang rela mencurahkan hidupnya untuk mempelajari bahasa (linguistik) suku Fayu di dalam hutan terpencil Papua Barat. Keluarga ini dikepalai oleh Vater Klaus Kuegler dengan membawa serta istri dan tiga orang anaknya. Ketiga orang anaknya bernama Judith, Christian, dan Sabine. Sabine saat pindah ke tanah Papua berusia 8 tahun. Kakaknya Judith saat itu mungkin berusia sekitar 11 tahun dan adiknya Christian sekitar 6-7 tahun.  Nah, fokus utama film ini terletak pada sisi Sabine, yang pada akhirnya nanti akan disebut gadis hutan (dschungelkind).

Kehidupan suku Fayu yang dipimpin kepala suku bernama Boko saat itu masih sangat primitif dan tidak mengenal teknologi. Bahkan suku ini masih sering berperang dengan suku lain. Mereka berperang terbuka sambil membawa busur dan anak panah.

Pada film ini diceritakan Sabine sebagai gadis kecil yang riang dan bersahabat. Di awal kedatangan mereka, hampir semua suku Fayu takut untuk mendekati mereka walaupun Sabine telah bersusah payah untuk bersikap ramah. Sabine yang mengajak bermain anak-anak disana pun tidak digubris.

Konflik bermula saat Sabine dan adiknya yang bermain di hutan bertemu Auri yang sedang sekarat. Auri ditinggalkan sendiri di tengah hutan karena dianggap dikutuk dewa sehingga tidak akan pernah sembuh dari sakitnya. Sabine pun melaporkan kepada ayah dan ibunya. Ibu Sabine yang seorang perawat akhirnya membantu menyembuhkan Auri dengan membawanya ke rumah mereka. Pria-pria suku Fayu kemudian datang dan marah kepada ayah dan  ibu Sabine yang dianggap melawan kehendak dewa. Sempat ada ketegangan, namun sang kepala suku Boko akhirnya bisa meredam. Setelah beberapa hari akhirnya Auri dapat sembuh dan perlahan-lahan muncul rasa percaya kepada keluarga Sabine. Mereka kini tidak takut lagi bermain dengan Sabine dan mulai bersahabat.

Cerita ini berlanjut hingga Sabine berusia 16 tahun dan akhirnya harus kembali ke Jerman untuk melanjutkan studi. Selama di Jerman, Sabine tetap tidak bisa melupakan suku Fayu dan kehidupan disana. Akhirnya bertahun-tahun kemudian, Sabine kembali ke Papua untuk menemani ayah dan ibunya dan juga suku Fayu. 🙂
B1200000052  kuegler

Pada gambar paling atas, itu adalah buku yang ditulis Sabine Kuegler dan di sebelah bawah adalah poster dari  film ini. Dari poster ini pun terdapat satu hal menarik yaitu foto Sabine yang saling menempelkan dahinya dengan  Boko, kepala suku Fayu. Dalam adat Papua menempelkan dahi ini ternyata berarti salam damai, bahkan bisa sebagai salam sayang.

Bagi penyuka film, film ini sangat recommended lah. Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari film ini, terutama tentang keikhlasan dalam membantu orang lain. Keikhlasan pasti berakhir indah. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s