Happy Birthday

Tanggal 21 Maret, ya  tanggal 21 Maret. Tepat saat adzan Subuh bergema, setengah hatiku berkata, “Hari ini ulang tahunmu, maka bergembiralah.”
Namun, serpihan-serpihan hatiku yang lain berkata,” Hmm.. Kalau hari ini ulang tahunmu, lalu kenapa? Apa yang akan kauperbuat? Ini hanya sebuah hari diantara hari lainnya. Justru harusnya semakin bertambah umur, maka semakin pendek waktumu di dunia ini”.

Tak ingin memperpanjang pemikiran lagi, akhirnya kugerakkan badan ini untuk mengambil wudhu dan bergegas menunaikan sholat Subuh di pagi yang dingin ini. Cuaca dingin ini benar-benar menusuk tulang dan cukup mengangguku sepanjang sholat, cukup untuk membuatku sesekali menggigil dan terlupa bacaan apa yang telah kuucapkan.
Setelah melaksanakan solat, sambil berbaring di atas kasur pikiranku mulai menerawang kembali . Tak lama, tanpa sadar mataku telah tertutup dan selamat tinggal sementara, dunia!

Cukup lama setelah tertidur, aku mendengar suara kasak-kusuk di luar kamar. Aku tak terlalu mementingkannya, badan dan pikiran ini rasanya masih terlalu lelah. Biarlah, pikirku. Ternyata beberapa detik kemudian, pintu kamarku diketuk dan dengan malasnya aku bangun untuk membuka pintu. Dan….ternyata ada kejutan untukku! Ya, sebuah kue ulang tahun. Aku sangat terharu saat itu, sangat-sangat terharu, ternyata masih ada yang memedulikanku. Di tengah keharuan ini tanpa sadar pikiranku melanglang ke dimensi lain.

Aku ingat bahwa setiap hari ulang tahunku, ada satu hal yang selalu kutunggu. Satu hal yang membuatku bahagia yaitu, telepon dari keluargaku. Telepon dari ayah, ibu, kakak, dan juga abangku yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Sambil sesekali mempercandai diriku yang si bungsu ini walau kian hari bertambah dewasa namun tetap saja masih anak kecil di mata mereka.

Karena hal inilah, ditengah keharuanku, aku teringat bahwa seharusnya aku menunggu telepon dari keluargaku. Tetapi, ada yang berbeda dalam hati ini. Serasa ada arus lemah menyentakku dan mengingatkan bahwa ada sebentuk gelombang suara khas yang tidak mungkin lagi bisa kudengar langsung.

Suara itu suara ayahku. Suara penuh kasih sayang yang selalu menyatakan kebanggaan kepada kami, anaknya. Suara penuh dedikasi dan rela berkorban apapun untuk kami. Suara yang selalu menghiasi benak dan hati kami setiap hari, seumur hidup kami.
Suara yang tidak akan pernah bisa didapatkan gantinya.

Hanya doa yang bisa kusampaikan kepadamu, ayah. Walaupun aku ingin berteriak dan memberikan seluruh isi dunia ini untukmu, tetapi aku tidak pernah bisa.

“Ya Allah, terimalah ayahku di sisiMu. Lapangkanlah kuburnya, terimalah amal ibadahnya, dan ampunilah dosa-dosanya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s