Untuk apa hidup

Untuk apa manusia hidup di dunia?

Manusia hidup di dunia untuk membayar hutang kepada Tuhan. Tuhan telah memberi kebaikan yang tidak terhitung banyaknya kepada kita manusia. Oleh karena itu, kita menebusnya dengan cara berbuat baik selama kita hidup.

*Disadur dari Kitab Komik Sufi 2

Advertisements

It’s Digimon Adventure tri!

Stay shisou na imeeji wo someta gikochinai tsubasa demo
Kitto toberu sa… on my love~

Siapa yang tahu penggalan kalimat diatas?

Nah jawabannya adalah……………..lirik dari lagu Butterfly

Hmm.. lupa??

Biar ingat kembali, lagu ini adalah opening song serial anime Digimon Adventure!  Yeay, mulai ingat kan sekarang? haha

Pagi ini saya terbangun mendengar alunan lagu tersebut. Saya yang masih malas-malasan di atas kasur seketika menjadi semangat saat mendengar lagu tersebut. Rasanya sangat menyegarkan!

Saya pun celingak-celinguk penasaran dari mana asal suara tersebut. Ternyata suaranya berasal dari hp abang saya yang ternyata ia telah mendownload episode terbaru digimon. Serial anime ini sekarang bernama Digimon Adventure Tri.

“Wah, keduluan nih.” kata saya dalam hati. Memang sempat terdengar desas-desus bahwa digimon adventure yang terbaru telah keluar. Tetapi saya tidak menyangka akan secepat ini.

Digimon Adventure tri ini menceritakan kembali petualangan Taichi, Yamato, Sora, Mimi, Koushiro, Joe, Hikari, dan Takeru bersama dengan digimon mereka masing-masing. Menurut kabar yang ada, serial ini akan disiarkan dalam enam seri film dan setiap film dirilis dalam rentang waktu yang cukup jauh. Cukup sedih juga terkait jadwal peluncuran anime ini, tetapi mau bagaimana lagi, dinikmati saja 🙂

Hal paling menyenangkan dari serial terbaru Digimon ini adalah theme song yang lama masih digunakan. Tiga theme song yang sangat berbekas dalam hati semua pencinta Digimon Adventure di seluruh dunia yaitu Butterfly, I Wish, dan Braveheart.

Braveheart menjadi lagu favorit saya. Lagu ini akan selalu muncul saat Taichi dan kawan-kawan melawan digimon yang jahat dan kejam. Dengan adanya lagu ini, adegan pertarungan mereka menjadi lebih dramatis dan setiap penonton pasti bisa merasakan keberanian dan kekuatan hati mereka.

Berikut lirik lagu Braveheart yang dinyanyikan oleh Ayumi Miyazaki

Nigetari akirameru koto wa daremo
Isshun areba dekiru kara arukitsuzukeyou

Kimi ni shika dekinai koto ga aru aoi hoshi ni
Hikari ga nakusenu you ni

Tsukame! egaita yume wo
Mamore! daiji na tomo wo
Takumashii jibun ni nareru sa
Shiranai pawaa ga yadoru haato ni hi ga tsuitara
Donna negai mo uso ja nai
Kitto kanau kara…show me your brave heart

Hare no hi bakari ja nai kara tama ni
Tsumetai ame mo furu keredo kasa hirogeyou

Ikikata ni chizu nanka nai kedo dakara jiyuu
Doko e datte yukeru, kimi mo

Hashire! kaze yori hayaku
Mezase! sora yori tooku
Atarashii jibun ni aeru sa
Shiranai yuuki ga nemuru haato ni ki ga tsuitara
Mune no naka no doshaburi mo
Kitto yamu kara…show me your brave heart

Tsukame! mabushii asu wo
Mamore! ai suru hito wo
Takumashii jibun ni nareru sa
Kowase! yowaki na kimi wo
Kuzuse! butsukaru kabe wo
Atsui kodou buki ni naru kara
Believe in your heart

Dan ini terjemahannya dalam bahasa Inggris

If given a second, anyone can give up and run
So just keep on walking

There’s something only you can do
So that this blue planet doesn’t lose its light

Seize the dreams you had!
Protect your beloved friends!
You can become stronger
Unknown power dwells in your heart, when its fire is lit
Any wish, it’s true
Will surely be granted…show me your brave heart

Not every day is sunny, so sometimes
Even though a cold rain is falling, just open your umbrella

There’s no map of how to live, that’s why we’re free
You can go anywhere

Run faster than the wind!
Aim farther than the skies!
You can meet a new you
Unknown courage sleeps in your heart, and when you realize
The downpour in your heart
Will surely stop…show me your brave heart

Seize the bright tomorrow!
Protect the ones you love!
You can become stronger
Break that weak self!
Destroy the walls blocking you!
The warm beat of your heart will be your weapon
Believe in your heart

Lirik yang menyentuh, bukan?

Padatnya Jakarta…

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya sekarang saya mulai menyempatkan diri lagi untuk bercerita di blog ini. 🙂

Saat ini ada hal yang berubah pada diri saya, yaitu adanya gelar di belakang nama saya! hehe.
Perjuangan selama empat tahun akhirnya menghantarkan saya pada sebuah gelar Sarjana Teknik (S.T.). Karena gelar S.T. ini adalah gelar yang pertama, saya tidak perlu menambahkan embel-embel lainnya. Beda jika gelar ini sudah yang ke-12 kali, maka nantinya nama saya bisa menjadi Arvin Putranto, S.T12. Kan bisa disangka pemain band. *naon*

Oke, sekarang kehidupan saya pun telah berpindah. Dari kehidupan kampus, kini beralih ke dunia kerja. Dari orientasi pegunungan (Bandung), kini berubah menjadi metropolitan. widiih
Di kota metropolitan ini, saya mulai mencoba membangun mimpi saya dan menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan.

Tinggal di kota metropolitan sebenarnya menyenangkan (kata orang). Namun, hingga saat ini saya masih belum menemukan kesenangannya. #sori JKT48

Hal yang paling membuat ketidakbetahan saya adalah kepadatannya. Dimana-mana jalanan macet. Selain itu, setelah beberapa kali naik KRL, saya membuktikan sendiri bahwa “pepes manusia” itu ada. Keluar-keluar dari KRL, orang akan lemas, lengket, dan “beraroma tajam”. Untungnya tidak ada orang yang memakai pakaian dari daun pisang. :p
Jumlah penumpang yang sangat banyak membuat ketidaknyamanan dan mengakibatkan kelelahan.

Dalam sebuah siaran berita di sebuah stasiun televisi, disebutkan bahwa jumlah penduduk di kota Jakarta selama jam kerja sekitar 20 juta orang. Saya tidak memiliki data tahun 2013 ini, namun menurut Permendagri nomor 66 tahun 2011, jumlah penduduk Jakarta yang terdaftar itu hanya 9,8 juta orang. Oleh karena itu dengan beban angkut 10 jutaan orang tersebut, bisa dibayangkan bahwa kebutuhan transportasi di Jakarta sangat tinggi. Patut diingat bahwa luas DKI Jakarta hanya 664,01 km2 sehingga Jakarta sangat padat dan menjadi masuk akal selalu diliputi kemacetan.

Sejalan dengan jumlah penduduknya, jumlah kendaraan di ibukota pun sangat besar. Berdasarkan web houseofinfographics.com yang dihimpun dari berbagai sumber, didapatkan hasil yang mencengangkan.

Yang pertama, yaitu jumlah kendaraan. Jika dibandingkan, 3 dari 10 mobil di Indonesia itu berada di Jakarta dan 14% motor Indonesia juga ada di Jakarta. Belum lagi setiap harinya Jakarta ditambah 1.130 unit kendaraan baru.

Kedua, jumlah kerugian yang ditimbulkan. Kerugian masyarakat Jakarta akibat kemacetan ini sekitar 68 triliun setiap tahun! Ongkos transportasi yang membengkak dan waktu yang terbuang percuma disinyalir sebagai faktor utama penyebab kerugian itu. Bayangkan, perharinya bisa terbuang 168 miliar rupiah secara cuma-cuma.

Saya berharap secepatnya permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik oleh pemerintah setempat. Mass Rapid Transit (MRT) yang sekarang mulai dikerjakan kembali, semoga dapat menjadi pemecah kebuntuan.  Dan sebagai warga masyarakat yang baik, marilah kita gunakan kendaraan pribadi hanya seperlunya saja.

Papua (?)

Kali ini saya ingin membahas tentang Papua setelah sebelumnya saya merasa “tertohok” saat menonton film Jungle Child. Seperti yang saya tulis pada artikel sebelumnya, film Jungle Child bercerita tentang seorang gadis muda Jerman yang hidup di tengah hutan di Papua. Melalui film itu saya bisa belajar adat budaya masyarakat Papua dan hal tersebut saya sesalkan. Saya mengerti kehidupan  saudara sebangsa saya  melalui bangsa asing.

tratan2

Sebagai permulaan, mari kita tilik dulu arti kata papua. Dari paper berjudul On The Origin of The Name Papua karangan J.H.F Sollewijn, Papua dulunya ditemukan pelaut Spanyol Ynigo Ortis de Retez dan dinamakan “Neuva Guinnea” karena adanya kemiripan fisik penduduk disana dengan penduduk di Teluk Guinea, Afrika Barat.  Kata papua sendiri berasal dari kata “puah-puah” yang berarti  rambut keriting. Kata ini untuk menggambarkan penduduk dari Neuva Guinnea. Kemungkinan kata papua berasal dari bahasa Melayu yang digunakan penduduk Maluku Utara. Saat Belanda menguasai Nueva Guinnea Barat, Belanda menggunakan kata Papua sebagai nama resmi pulau itu. Sejak saat itulah hingga Indonesia mengambil alih, nama Papua selalu digunakan.

Setelah Indonesia merdeka dan Papua berhasil diselamatkan tentara RI, pada Konferensi Malino pada tahun 1964, Frans Kaisiepo, seorang pahlawan nasional Indonesia asal Papua yang sempat juga menjadi Gubernur Papua, mengusulkan nama Iryan.  Hal ini disebabkan penduduk disana tidak menyukai kata papua karena dianggap terlalu merendahkan ( papua tidak hanya diartikan keriting tetapi juga hitam, budak, dan penjahat). Kata Iryan berasal dari bahasa Biak yang artinya “membangkitkan” (to rise), ada juga yang mengartikan “sinar menghalau kabut”. Kata irian ini juga bisa diartikan terdiri dari dua kata yaitu Iri dan Ryan yang berarti tanah panas. Presiden Soekarno pada masa itu memopulerkan kata Irian sebagai singkatan “Ikut Republik Anti Netherland”. Sempat menjadi Irian Barat berganti menjadi Irian Jaya pada masa Soeharto, namun akhirnya kembali lagi menjadi Papua pada masa pemerintahan Gus Dur. Gus Dur mengaku mengganti nama tersebut tanpa tekanan dan beralasan bahwa kata Irian berasal dari bahasa Arab yang berarti “telanjang”. Lalu pada zaman Megawati dengan melanggar UU Otonomi Khusus Papua, Papua dibagi menjadi 2 provinsi yaitu Papua dan Papua Barat.

Jika kita melihat sejarah perjalanan Papua/ Irian hingga kini, Papua awalnya masuk wilayah Kesultanan Tidore. Selanjutnya dijajah Portugal pada tahun 1526 dan berganti Spanyol pada tahun 1546. Selanjutnya saya masih belum jelas kenapa Papua bisa kembali dikuasai Tidore. Namun yang pasti pada tahun 1828, Belanda melalui gubernurnya di Maluku membangun benteng Fort du Bus di Teluk Triton daerah Lobo (Papua) yang bertujuan untuk menghadang kapal Inggris yang ingin datang ikut menjajah. Itu awal mula Belanda di Papua. Setelah Tidore menyerah pada Belanda di tahun 1872, Belanda dapat dengan bebas melebarkan sayap penjajahannya. Pada tahun 1898 Belanda kembali ke Papua dan menguasai hingga tahun 1949.

Pada tahun 1949, Indonesia melakukan perundingan dengan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Namun berdasarkan hasil konferensi, Papua/ Irian Barat masih belum bisa diserahkan ke Republik Indonesia Serikat saat itu. Selanjutnya keadaan semakin memanas. Presiden Soekarno merasa terancam dengan gerak-gerik Belanda di Papua yang akan memunculkan sebuah negara boneka di Papua. Hal ini dikarenakan Soekarno mengetahui bahwa pada tanggal 1 Desember 1961 telah disetujui dan akan dilakukan persiapan deklarasi Papua Barat merdeka. Soekarno geram mendengar hal tersebut. Kemudian pada tanggal 19 Desember 1961 dikeluarkan TRIKORA oleh Presiden Soekarno. Tujuan utama TRIKORA adalah menggagalkan pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda. Pasukan TNI AD yang ditugaskan menggagalkan pembentukan negara boneka Papua tersebut dipimpin Mayjend. Soeharto selaku Panglima Komando Mandala. Dengan berbagai operasi militer yang dilakukan, akhirnya bendera merah putih dapat dikibarkan di Papua.

Untuk menjembatani penyelesaian sengketa Papua Barat antara Indonesia dan Belanda, Amerika Serikat menginisiasi New York Agreement pada tahun 1962. Hasil New York Agreement adalah Papua Barat sementara akan diawasi PBB melalui UNTEA untuk berikutnya dilakukan Pepera. Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) diselenggarakan pada tahun 1969 untuk memutuskan sikap rakyat Papua, apakah merdeka, bergabung dengan Indonesia, atau Belanda. Dari hasil Pepera, Papua bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Referensi:

On The Origin of The Name Papua oleh J.H.F. Sollewun Gelpke tahun1992. (http://www.papuaweb.org/dlib/bk1/kitlv/bki/gelpke-1993.pdf)
Twit Ridwansyah Yusuf Ahmad dalam Diskusi Tentang Papua dan Pemutaran Film Alkinemokiye tanggal 24 Februari 2013 (http://chirpstory.com/li/56587)
Hasil dari New York Agreement tahun 1962 (http://en.wikipedia.org/wiki/New_York_Agreement)
Sejarah Konferensi Meja Bundar (http://indonesiaindonesia.com/f/101663-sejarah-konferensi-meja-bundar-kmb/)

Jungle Child

Hari minggu pagi ini saya menyempatkan diri untuk bersantai dengan menonton film. Salah satu film yang saya tonton berjudul “Dschungelkind” atau yang dalam bahasa Inggris adalah  “Jungle Child”. Awalnya film ini tidak terlalu menarik perhatian karena judulnya menurut saya tidak istimewa. Namun setelah mengikuti jalan ceritanya, saya rela untuk memberikan standing ovation untuk film ini. 😀

Film ini bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga Jerman yang rela mencurahkan hidupnya untuk mempelajari bahasa (linguistik) suku Fayu di dalam hutan terpencil Papua Barat. Keluarga ini dikepalai oleh Vater Klaus Kuegler dengan membawa serta istri dan tiga orang anaknya. Ketiga orang anaknya bernama Judith, Christian, dan Sabine. Sabine saat pindah ke tanah Papua berusia 8 tahun. Kakaknya Judith saat itu mungkin berusia sekitar 11 tahun dan adiknya Christian sekitar 6-7 tahun.  Nah, fokus utama film ini terletak pada sisi Sabine, yang pada akhirnya nanti akan disebut gadis hutan (dschungelkind).

Kehidupan suku Fayu yang dipimpin kepala suku bernama Boko saat itu masih sangat primitif dan tidak mengenal teknologi. Bahkan suku ini masih sering berperang dengan suku lain. Mereka berperang terbuka sambil membawa busur dan anak panah.

Pada film ini diceritakan Sabine sebagai gadis kecil yang riang dan bersahabat. Di awal kedatangan mereka, hampir semua suku Fayu takut untuk mendekati mereka walaupun Sabine telah bersusah payah untuk bersikap ramah. Sabine yang mengajak bermain anak-anak disana pun tidak digubris.

Konflik bermula saat Sabine dan adiknya yang bermain di hutan bertemu Auri yang sedang sekarat. Auri ditinggalkan sendiri di tengah hutan karena dianggap dikutuk dewa sehingga tidak akan pernah sembuh dari sakitnya. Sabine pun melaporkan kepada ayah dan ibunya. Ibu Sabine yang seorang perawat akhirnya membantu menyembuhkan Auri dengan membawanya ke rumah mereka. Pria-pria suku Fayu kemudian datang dan marah kepada ayah dan  ibu Sabine yang dianggap melawan kehendak dewa. Sempat ada ketegangan, namun sang kepala suku Boko akhirnya bisa meredam. Setelah beberapa hari akhirnya Auri dapat sembuh dan perlahan-lahan muncul rasa percaya kepada keluarga Sabine. Mereka kini tidak takut lagi bermain dengan Sabine dan mulai bersahabat.

Cerita ini berlanjut hingga Sabine berusia 16 tahun dan akhirnya harus kembali ke Jerman untuk melanjutkan studi. Selama di Jerman, Sabine tetap tidak bisa melupakan suku Fayu dan kehidupan disana. Akhirnya bertahun-tahun kemudian, Sabine kembali ke Papua untuk menemani ayah dan ibunya dan juga suku Fayu. 🙂
B1200000052  kuegler

Pada gambar paling atas, itu adalah buku yang ditulis Sabine Kuegler dan di sebelah bawah adalah poster dari  film ini. Dari poster ini pun terdapat satu hal menarik yaitu foto Sabine yang saling menempelkan dahinya dengan  Boko, kepala suku Fayu. Dalam adat Papua menempelkan dahi ini ternyata berarti salam damai, bahkan bisa sebagai salam sayang.

Bagi penyuka film, film ini sangat recommended lah. Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari film ini, terutama tentang keikhlasan dalam membantu orang lain. Keikhlasan pasti berakhir indah. 🙂

Happy Birthday

Tanggal 21 Maret, ya  tanggal 21 Maret. Tepat saat adzan Subuh bergema, setengah hatiku berkata, “Hari ini ulang tahunmu, maka bergembiralah.”
Namun, serpihan-serpihan hatiku yang lain berkata,” Hmm.. Kalau hari ini ulang tahunmu, lalu kenapa? Apa yang akan kauperbuat? Ini hanya sebuah hari diantara hari lainnya. Justru harusnya semakin bertambah umur, maka semakin pendek waktumu di dunia ini”.

Tak ingin memperpanjang pemikiran lagi, akhirnya kugerakkan badan ini untuk mengambil wudhu dan bergegas menunaikan sholat Subuh di pagi yang dingin ini. Cuaca dingin ini benar-benar menusuk tulang dan cukup mengangguku sepanjang sholat, cukup untuk membuatku sesekali menggigil dan terlupa bacaan apa yang telah kuucapkan.
Setelah melaksanakan solat, sambil berbaring di atas kasur pikiranku mulai menerawang kembali . Tak lama, tanpa sadar mataku telah tertutup dan selamat tinggal sementara, dunia!

Cukup lama setelah tertidur, aku mendengar suara kasak-kusuk di luar kamar. Aku tak terlalu mementingkannya, badan dan pikiran ini rasanya masih terlalu lelah. Biarlah, pikirku. Ternyata beberapa detik kemudian, pintu kamarku diketuk dan dengan malasnya aku bangun untuk membuka pintu. Dan….ternyata ada kejutan untukku! Ya, sebuah kue ulang tahun. Aku sangat terharu saat itu, sangat-sangat terharu, ternyata masih ada yang memedulikanku. Di tengah keharuan ini tanpa sadar pikiranku melanglang ke dimensi lain.

Aku ingat bahwa setiap hari ulang tahunku, ada satu hal yang selalu kutunggu. Satu hal yang membuatku bahagia yaitu, telepon dari keluargaku. Telepon dari ayah, ibu, kakak, dan juga abangku yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Sambil sesekali mempercandai diriku yang si bungsu ini walau kian hari bertambah dewasa namun tetap saja masih anak kecil di mata mereka.

Karena hal inilah, ditengah keharuanku, aku teringat bahwa seharusnya aku menunggu telepon dari keluargaku. Tetapi, ada yang berbeda dalam hati ini. Serasa ada arus lemah menyentakku dan mengingatkan bahwa ada sebentuk gelombang suara khas yang tidak mungkin lagi bisa kudengar langsung.

Suara itu suara ayahku. Suara penuh kasih sayang yang selalu menyatakan kebanggaan kepada kami, anaknya. Suara penuh dedikasi dan rela berkorban apapun untuk kami. Suara yang selalu menghiasi benak dan hati kami setiap hari, seumur hidup kami.
Suara yang tidak akan pernah bisa didapatkan gantinya.

Hanya doa yang bisa kusampaikan kepadamu, ayah. Walaupun aku ingin berteriak dan memberikan seluruh isi dunia ini untukmu, tetapi aku tidak pernah bisa.

“Ya Allah, terimalah ayahku di sisiMu. Lapangkanlah kuburnya, terimalah amal ibadahnya, dan ampunilah dosa-dosanya.”

Kuliah ke Inggris

Pengalaman berkuliah selama lebih dari 3 tahun mengarahkan saya pada 1 kesimpulan yaitu kuliah itu menyenangkan. Garis bawahi ya, kuliah (tidak termasuk ujian dan tugas.. :p)

Nah barusan saya mengikuti seminar tentang kuliah ke Inggris dan salah satu senior saya jadi pembicara. 🙂 Selain senior saya tersebut, juga ada perwakilan dari rektorat bidang hubungan internasional dan atase pendidikan tinggi RI di Inggris.

Penyampaian oleh Bapak Dr. Edwan Kardena yang merupakan Direktur Kerjasama dan Hubungan Internasional ITB  ini lebih menjelaskan tentang kerjasama-kerjasama yang telah dilakukan kampus dengan pihak luar negeri, salah satunya Inggris. Mungkin tidak banyak namun mengalami peningkatan tiap tahun, apalagi sejak pemerintah Indonesia melalui Kemdikbud telah menandatangani MoU dengan pemerintah Inggris untuk memperbanyak jumlah pelajar Indonesia ke Inggris.

Selanjutnya penyampaian oleh atase Pendidikan RI di Inggris oleh Bapak Prof. T.A. Fauzi Soelaiman. Prof Fauzi sebelum menjadi atase pendidikan telah lama menjadi dosen di program studi Teknik Mesin. Prof Fauzi lebih banyak menceritakan tentang kehidupan dan kebudayaan pendidikan di Inggris. Tak jarang ditampilkan pula gambar-gambar universitas di Inggris dan kami yang hadir disuruh menebak. Kebayang kan gagapnya kami menebak. Universitas di Indonesia aja ga hapal bentuk bangunannya apalagi yang di Inggris.. haha

Yang terakhir ini penyampaian dari senior saya, Kak Narendra Kurnia Putra. Beliau melanjutkan studi S2 di Imperial College bidang studi biomedical engineering. Hal terpenting yang saya catat dari penyampaian kak Rendra adalah kita harus punya motivasi yang kuat dan visi yang kita tuju juga harus jelas. Motivasi yang kuat inilah yang akan menentukan keberhasilan usaha kita.
Motivasi dan visi itu juga kita tuliskan dalam esai yang kita kirim ke universitas yang kita inginkan. Tipsnya sih, harus banyak dilebaykan dan puji universitasnya. Soalnya katanya orang-orang bule suka disanjung.. hihi
Nah, selain itu yang penting lagi apalagi kalau bukan uang.. haha

Ingat bahwa kuliah ke luar negeri itu mahal dan Inggris pun begitu. Walaupun biayanya masih tidak setinggi Australia dan Amerika, tapi tetap juga mahal bagi kita orang Indonesia. Biaya kuliah pertahun itu bisa sampai 15.000-25.000 GBP dengan biaya hidup perbulan (London) minimalnya 1.000 GBP.

Karena uang itu sumber dari segala masalah, makanya kak Naren menjelaskan bagaimana cara mendapatkan uang yang cepat (beasiswa). Ada beasiswa penuh yang memenuhi semua kebutuhan hidup berikut biaya kuliah dan ada juga yang hanya parsial, bisa biaya hidup saja atau biaya kuliah saja.  Kak Naren yang memang ingin menjadi dosen mendapatkan beasiswa unggulan DIKTI untuk calon dosen. Pokoknya kalau ingin lebih tahu lagi tentang beasiswa ke Inggris, sarannya kunjungi website ini : http://www.atdikbudlondon.com

Oxford-University4 Astonwebbpanorama-Cropped-510x275